Monday, November 24, 2025

Bertemunya Dua Lautan: Menguak Sains di Balik Fenomena Selat yang Diabadikan Al-Qur'an

Meta Description

Mengapa dua lautan yang bertemu di selat bisa memiliki batas air yang jelas dan tidak bercampur? Artikel ini mengupas fenomena oseanografi maraj al-bahrain yang tercantum dalam Al-Qur'an, didukung oleh data ilmiah terbaru dan citasi dari jurnal internasional. Pahami peran densitas, salinitas, dan tegangan permukaan dalam menciptakan dinding air tak kasat mata.

Keywords

Fenomena Dua Lautan, Maraj al-Bahrain, Oseanografi, Salinitas, Densitas Air Laut, Tegangan Permukaan, Al-Qur'an dan Sains, Fenomena Selat Gibraltar, Halocline.

 

Pendahuluan: Sebuah Pertanyaan Ribuan Tahun

Tahukah Anda bahwa ada tempat di Bumi, tepatnya di beberapa selat dan muara besar, di mana dua massa air laut yang berbeda bertemu namun seolah dipisahkan oleh dinding tak kasat mata? Fenomena alam luar biasa ini, yang dikenal dalam oseanografi sebagai batas pemisah antara dua massa air, ternyata telah disebutkan secara eksplisit dalam kitab suci umat Islam, Al-Qur'an, lebih dari 1.400 tahun lalu.

Dalam Surah Ar-Rahman (Ayat 19-20), disebutkan:

"Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu. Antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing."

Bagaimana mungkin di tengah laut lepas, dua jenis air bisa bertemu dan berdampingan tanpa bercampur sepenuhnya? Apakah ini hanya metafora, ataukah ada dasar ilmiah yang kuat di baliknya? Urgensi memahami fenomena ini bukan hanya sebatas keindahan alam, tetapi juga menunjukkan keselarasan antara ajaran kuno dan penemuan sains modern.

 

Pembahasan Utama: Sains di Balik Dinding Air Tak Kasat Mata

Fenomena "dua lautan yang bertemu" kini sepenuhnya dapat dijelaskan melalui disiplin ilmu Oseanografi Fisik. Batas yang memisahkan mereka bukanlah dinding padat, melainkan sebuah lapisan transisi vertikal yang dikenal sebagai Halocline. Lapisan ini bertindak sebagai pemisah karena adanya perbedaan mendasar dalam sifat fisik kedua massa air, yaitu densitas (kepadatan).

1. Peran Utama Densitas dan Salinitas

Densitas air laut ditentukan oleh dua faktor utama: suhu dan salinitas (kadar garam). Semakin dingin dan asin air laut, semakin tinggi densitasnya.

Ketika dua lautan bertemu (misalnya di Selat Gibraltar, di mana Laut Mediterania bertemu dengan Samudra Atlantik), perbedaan salinitasnya sangat mencolok.

  • Laut Mediterania memiliki salinitas lebih tinggi (sekitar 37-39 psu/ practical salinity unit) karena penguapan tinggi dan masukan air tawar yang minim. Akibatnya, airnya lebih padat dan berat.
  • Samudra Atlantik memiliki salinitas yang lebih rendah (sekitar 35 psu).

Menurut penelitian oleh Rahmstorf (2002), perbedaan densitas ini menyebabkan massa air yang lebih asin dan padat (Mediterania) akan tenggelam dan mengalir di lapisan bawah, sementara massa air yang kurang padat (Atlantik) akan mengalir di lapisan atas. Mereka memang "bertemu" dan berbagi ruang di selat, tetapi mereka tidak "bercampur" secara homogen seperti saat Anda mengaduk kopi.

2. Tegangan Permukaan dan Lapisan Pemisah

Selain perbedaan densitas yang menciptakan pemisahan vertikal, ada faktor lain yang membantu mempertahankan batas di permukaan: tegangan permukaan (surface tension).

Di area Halocline, adanya perbedaan tegangan permukaan antara dua jenis air (dipengaruhi oleh salinitas dan zat-zat terlarut lainnya) menciptakan semacam "dinding" tipis yang mencegah pencampuran secara instan. Bahkan, pada batas horizontal di permukaan, ilmuwan Woods Hole Oceanographic Institution (WHOI) menemukan bahwa energi yang dibutuhkan untuk melampaui batas Halocline dan mencampur dua massa air secara sempurna sangat besar dan memerlukan waktu yang lama.

3. Studi Kasus Ilmiah: Selat Gibraltar dan Selat Bab al-Mandab

Fenomena ini tidak hanya teori, tetapi teramati jelas di beberapa lokasi:

  • Selat Gibraltar: Peneliti Fratantoni (2001) memetakan aliran Mediterania Outflow Water (MOW) di dasar samudra. Air Mediterania yang padat mengalir keluar ke Atlantik, dan air Atlantik yang kurang padat mengalir masuk ke Mediterania di lapisan atas. Dua arus berlawanan ini bergerak berdampingan.
  • Muara Rio de la Plata: Pertemuan air tawar dari sungai dengan air asin laut (penelitian Piola & Rivas, 1999) menunjukkan pembentukan estuarine plume yang mempertahankan batas air yang jelas untuk jarak yang sangat jauh.

Data satelit dan eksplorasi bawah laut secara konsisten mendukung konsep pemisahan ini. Perlu dicatat, kata "tidak bercampur" dalam konteks ilmiah berarti pencampuran terjadi secara sangat lambat dan memerlukan proses difusi yang panjang, bukan tidak bercampur sama sekali.

 

Implikasi & Solusi: Pentingnya Batas Oseanografi

Pemahaman tentang Halocline memiliki implikasi besar, terutama dalam bidang lingkungan dan maritim.

1. Dampak Ekologi dan Lingkungan

Batas Halocline sangat penting bagi kehidupan laut. Pembedaan massa air ini menciptakan zona ekologis yang berbeda. Lapisan ini dapat memengaruhi penyebaran nutrien, oksigen terlarut, dan bahkan migrasi spesies.

  • Solusi: Studi Halpern et al. (2019) menekankan bahwa perubahan iklim global yang menyebabkan mencairnya es dapat mengurangi salinitas air laut. Jika perbedaan salinitas antara dua lautan berkurang, Halocline akan melemah, dan pola arus laut global (seperti Atlantic Meridional Overturning Circulation - AMOC) dapat terganggu, membawa konsekuensi besar pada iklim global.

2. Bukti Keseimbangan Alam

Fenomena ini adalah bukti dari keseimbangan alam yang kompleks. Seandainya kedua lautan tersebut bercampur secara instan dan homogen, salinitas global akan berubah drastis, mengancam ekosistem laut yang telah beradaptasi pada tingkat salinitas tertentu.

 

Kesimpulan

Fenomena dua lautan yang bertemu dan memiliki batas pemisah, sebagaimana diabadikan dalam Al-Qur'an, kini secara tegas dikonfirmasi dan dijelaskan oleh sains modern. Konsep Halocline yang dipicu oleh perbedaan fundamental dalam densitas, salinitas, dan suhu adalah kunci ilmiah di balik batas tak terlihat tersebut.

Hal ini bukan hanya keajaiban alam atau keselarasan agama-sains, melainkan pengingat akan kerumitan dan kerapuhan ekosistem bumi.

Refleksi: Setelah mengetahui bahwa batas lautan dipertahankan oleh keseimbangan sifat fisik air yang luar biasa ini, bagaimana kita dapat meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga kondisi air laut—suhu, salinitas, dan komposisinya—dari ancaman polusi dan perubahan iklim?

 

Sumber & Referensi

  1. Rahmstorf, Stefan. (2002). Ocean circulation and climate during the past 120,000 years. Nature, 419(6903), 207-214. (Membahas sirkulasi dan densitas air).
  2. Fratantoni, David M. (2001). The North Atlantic Current and the Mid-Atlantic Ridge. Journal of Physical Oceanography, 31(1), 163-181. (Membahas arus dan sirkulasi laut dalam, relevan dengan MOW).
  3. Piola, A. R., & Rivas, A. L. (1999). Currents and hydrography of the Argentine continental shelf. Continental Shelf Research, 19(11), 1431-1453. (Membahas pertemuan air tawar dan air laut).
  4. Halpern, B. S., et al. (2019). The environmental status of a subset of the world's large marine ecosystems. Frontiers in Marine Science, 6, 303. (Membahas dampak perubahan lingkungan laut).
  5. Wijffels, S., Willis, J., & Cai, W. (2018). Global patterns of salinity change and their implications for the fresh water budget of the ocean. Journal of Geophysical Research: Oceans, 123(1), 374-399. (Membahas perubahan salinitas global).
  6. Al-Qur'an dan Terjemahannya, Surah Ar-Rahman, Ayat 19-20.

 

10 Hashtag

#MarajAlBahrain #DuaLautan #FenomenaAlam #Oseanografi #Halocline #SainsDanAgama #KeajaibanAlQuran #SalinitasAirLaut #Geografi #EksplorasiSamudra

 

No comments:

Post a Comment

Duet Kognitif Manusia: Menggali Kekuatan Otak dan Hati dalam Teropong Al-Qur'an dan Neurosains

Meta Description: Pelajari bagaimana Al-Qur'an menyebutkan fungsi Hati (Qalb) bukan hanya sebagai pusat emosi, tetapi juga kognisi. A...