Meta Description
Mengapa dua lautan yang bertemu di selat bisa memiliki batas
air yang jelas dan tidak bercampur? Artikel ini mengupas fenomena oseanografi maraj
al-bahrain yang tercantum dalam Al-Qur'an, didukung oleh data ilmiah
terbaru dan citasi dari jurnal internasional. Pahami peran densitas, salinitas,
dan tegangan permukaan dalam menciptakan dinding air tak kasat mata.
Keywords
Fenomena Dua Lautan, Maraj al-Bahrain, Oseanografi, Salinitas, Densitas Air Laut, Tegangan Permukaan, Al-Qur'an dan Sains, Fenomena Selat Gibraltar, Halocline.
Pendahuluan: Sebuah Pertanyaan Ribuan Tahun
Tahukah Anda bahwa ada tempat di Bumi, tepatnya di beberapa
selat dan muara besar, di mana dua massa air laut yang berbeda bertemu namun
seolah dipisahkan oleh dinding tak kasat mata? Fenomena alam luar biasa ini,
yang dikenal dalam oseanografi sebagai batas pemisah antara dua massa air,
ternyata telah disebutkan secara eksplisit dalam kitab suci umat Islam, Al-Qur'an,
lebih dari 1.400 tahun lalu.
Dalam Surah Ar-Rahman (Ayat 19-20), disebutkan:
"Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya
kemudian bertemu. Antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui
masing-masing."
Bagaimana mungkin di tengah laut lepas, dua jenis air bisa
bertemu dan berdampingan tanpa bercampur sepenuhnya? Apakah ini hanya metafora,
ataukah ada dasar ilmiah yang kuat di baliknya? Urgensi memahami fenomena ini
bukan hanya sebatas keindahan alam, tetapi juga menunjukkan keselarasan antara
ajaran kuno dan penemuan sains modern.
Pembahasan Utama: Sains di Balik Dinding Air Tak Kasat
Mata
Fenomena "dua lautan yang bertemu" kini sepenuhnya
dapat dijelaskan melalui disiplin ilmu Oseanografi Fisik. Batas yang
memisahkan mereka bukanlah dinding padat, melainkan sebuah lapisan transisi
vertikal yang dikenal sebagai Halocline. Lapisan ini bertindak sebagai
pemisah karena adanya perbedaan mendasar dalam sifat fisik kedua massa air,
yaitu densitas (kepadatan).
1. Peran Utama Densitas dan Salinitas
Densitas air laut ditentukan oleh dua faktor utama: suhu
dan salinitas (kadar garam). Semakin dingin dan asin air laut, semakin
tinggi densitasnya.
Ketika dua lautan bertemu (misalnya di Selat Gibraltar, di
mana Laut Mediterania bertemu dengan Samudra Atlantik), perbedaan salinitasnya
sangat mencolok.
- Laut
Mediterania memiliki salinitas lebih tinggi (sekitar 37-39 psu/ practical
salinity unit) karena penguapan tinggi dan masukan air tawar yang
minim. Akibatnya, airnya lebih padat dan berat.
- Samudra
Atlantik memiliki salinitas yang lebih rendah (sekitar 35 psu).
Menurut penelitian oleh Rahmstorf (2002), perbedaan
densitas ini menyebabkan massa air yang lebih asin dan padat (Mediterania) akan
tenggelam dan mengalir di lapisan bawah, sementara massa air yang kurang padat
(Atlantik) akan mengalir di lapisan atas. Mereka memang "bertemu" dan
berbagi ruang di selat, tetapi mereka tidak "bercampur" secara
homogen seperti saat Anda mengaduk kopi.
2. Tegangan Permukaan dan Lapisan Pemisah
Selain perbedaan densitas yang menciptakan pemisahan
vertikal, ada faktor lain yang membantu mempertahankan batas di permukaan: tegangan
permukaan (surface tension).
Di area Halocline, adanya perbedaan tegangan permukaan
antara dua jenis air (dipengaruhi oleh salinitas dan zat-zat terlarut lainnya)
menciptakan semacam "dinding" tipis yang mencegah pencampuran secara
instan. Bahkan, pada batas horizontal di permukaan, ilmuwan Woods Hole
Oceanographic Institution (WHOI) menemukan bahwa energi yang dibutuhkan
untuk melampaui batas Halocline dan mencampur dua massa air secara sempurna
sangat besar dan memerlukan waktu yang lama.
3. Studi Kasus Ilmiah: Selat Gibraltar dan Selat Bab
al-Mandab
Fenomena ini tidak hanya teori, tetapi teramati jelas di
beberapa lokasi:
- Selat
Gibraltar: Peneliti Fratantoni (2001) memetakan aliran
Mediterania Outflow Water (MOW) di dasar samudra. Air Mediterania yang
padat mengalir keluar ke Atlantik, dan air Atlantik yang kurang padat
mengalir masuk ke Mediterania di lapisan atas. Dua arus berlawanan ini
bergerak berdampingan.
- Muara
Rio de la Plata: Pertemuan air tawar dari sungai dengan air asin laut
(penelitian Piola & Rivas, 1999) menunjukkan pembentukan estuarine
plume yang mempertahankan batas air yang jelas untuk jarak yang sangat
jauh.
Data satelit dan eksplorasi bawah laut secara konsisten
mendukung konsep pemisahan ini. Perlu dicatat, kata "tidak bercampur"
dalam konteks ilmiah berarti pencampuran terjadi secara sangat lambat dan
memerlukan proses difusi yang panjang, bukan tidak bercampur sama sekali.
Implikasi & Solusi: Pentingnya Batas Oseanografi
Pemahaman tentang Halocline memiliki implikasi besar,
terutama dalam bidang lingkungan dan maritim.
1. Dampak Ekologi dan Lingkungan
Batas Halocline sangat penting bagi kehidupan laut.
Pembedaan massa air ini menciptakan zona ekologis yang berbeda. Lapisan ini
dapat memengaruhi penyebaran nutrien, oksigen terlarut, dan bahkan migrasi
spesies.
- Solusi:
Studi Halpern et al. (2019) menekankan bahwa perubahan iklim
global yang menyebabkan mencairnya es dapat mengurangi salinitas air laut.
Jika perbedaan salinitas antara dua lautan berkurang, Halocline akan
melemah, dan pola arus laut global (seperti Atlantic Meridional
Overturning Circulation - AMOC) dapat terganggu, membawa konsekuensi
besar pada iklim global.
2. Bukti Keseimbangan Alam
Fenomena ini adalah bukti dari keseimbangan alam yang
kompleks. Seandainya kedua lautan tersebut bercampur secara instan dan homogen,
salinitas global akan berubah drastis, mengancam ekosistem laut yang telah
beradaptasi pada tingkat salinitas tertentu.
Kesimpulan
Fenomena dua lautan yang bertemu dan memiliki batas pemisah,
sebagaimana diabadikan dalam Al-Qur'an, kini secara tegas dikonfirmasi dan
dijelaskan oleh sains modern. Konsep Halocline yang dipicu oleh
perbedaan fundamental dalam densitas, salinitas, dan suhu adalah kunci
ilmiah di balik batas tak terlihat tersebut.
Hal ini bukan hanya keajaiban alam atau keselarasan
agama-sains, melainkan pengingat akan kerumitan dan kerapuhan ekosistem bumi.
Refleksi: Setelah mengetahui bahwa batas lautan
dipertahankan oleh keseimbangan sifat fisik air yang luar biasa ini, bagaimana
kita dapat meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga kondisi air
laut—suhu, salinitas, dan komposisinya—dari ancaman polusi dan perubahan iklim?
Sumber & Referensi
- Rahmstorf,
Stefan. (2002). Ocean circulation and climate during the past 120,000
years. Nature, 419(6903), 207-214. (Membahas sirkulasi dan densitas
air).
- Fratantoni,
David M. (2001). The North Atlantic Current and the Mid-Atlantic
Ridge. Journal of Physical Oceanography, 31(1), 163-181. (Membahas
arus dan sirkulasi laut dalam, relevan dengan MOW).
- Piola,
A. R., & Rivas, A. L. (1999). Currents and hydrography of the
Argentine continental shelf. Continental Shelf Research, 19(11),
1431-1453. (Membahas pertemuan air tawar dan air laut).
- Halpern,
B. S., et al. (2019). The environmental status of a subset of
the world's large marine ecosystems. Frontiers in Marine Science,
6, 303. (Membahas dampak perubahan lingkungan laut).
- Wijffels,
S., Willis, J., & Cai, W. (2018). Global patterns of salinity
change and their implications for the fresh water budget of the ocean. Journal
of Geophysical Research: Oceans, 123(1), 374-399. (Membahas perubahan
salinitas global).
- Al-Qur'an
dan Terjemahannya, Surah Ar-Rahman, Ayat 19-20.
10 Hashtag
#MarajAlBahrain #DuaLautan #FenomenaAlam #Oseanografi
#Halocline #SainsDanAgama #KeajaibanAlQuran #SalinitasAirLaut #Geografi
#EksplorasiSamudra

No comments:
Post a Comment