Meta Description
Benarkah kota metropolitan legendaris Iram yang disebutkan
Al-Qur'an pernah ada? Artikel ilmiah populer ini mengulas bukti-bukti arkeologi
yang mengarah pada penemuan kota Ubar di Oman, mencakup penggunaan citra
satelit dan data geologi untuk membongkar mitos dan fakta kota yang hilang ini.
Keywords
Kota Iram, Ubar, Atlantis Gurun, Arkeologi Islam, Citra Satelit, Hadramaut, Oman, Peradaban Kuno, Al-Qur'an dan Sains, Kota Hilang.
Pendahuluan: Sebuah Kota yang 'Tiada Tandingan'
Bayangkan sebuah kota yang begitu megah, kaya, dan
berarsitektur unik sehingga Al-Qur'an menggambarkannya sebagai "yang belum
pernah diciptakan kota seperti itu di negeri-negeri lain" (QS Al-Fajr:
7-8). Kota itu adalah Iram yang Bertiang-tiang (Iram dhāt al-‘Imād),
sebuah peradaban yang konon dihuni oleh kaum ‘Ād, yang memiliki kekuatan dan
keahlian bangunan yang luar biasa.
Selama berabad-abad, Iram dianggap sebagai mitos belaka,
sebanding dengan Atlantis di lautan. Namun, pada awal 1990-an, teka-teki kuno
ini mulai terpecahkan, bukan oleh penggalian tradisional, melainkan oleh
teknologi modern. Apakah Iram benar-benar hilang terkubur di bawah bukit pasir
Semenanjung Arab? Urgensi pencarian ini bukan hanya untuk membuktikan narasi
agama, tetapi juga untuk mengisi kekosongan besar dalam sejarah peradaban
Arabia pra-Islam.
Pembahasan Utama: Memanfaatkan Teknologi untuk Menggali
Masa Lalu
Pencarian Kota Iram terpusat di kawasan Rub' al Khali
(seperempat kosong) di Semenanjung Arab—gurun pasir terbesar di dunia. Selama
ribuan tahun, gurun ini telah menelan kota-kota, mengubah jejak peradaban
menjadi hamparan bukit pasir yang tak berujung.
1. Peran Sentral Citra Satelit dan Radar
Titik balik dalam pencarian Iram terjadi pada tahun 1980-an
dengan penggunaan teknologi canggih. Tim peneliti yang dipimpin oleh Nicholas
Clapp, menggunakan dua metode utama:
- Pemindaian
Radar JEDEC (NASA): Tim memanfaatkan data yang diambil oleh Space
Shuttle Challenger yang dilengkapi Shuttle Imaging Radar-A (SIR-A).
Radar ini memiliki kemampuan untuk menembus lapisan kering permukaan gurun
dan mendeteksi fitur geologis di bawahnya.
- Hasil:
Citra radar mengungkapkan jaringan jalur unta kuno yang padat dan
konvergen di suatu titik. Jalur-jalur ini, yang disebut fossil tracks,
terawetkan di bawah pasir.
- Analisis
Jaringan Hidrologi: Data citra satelit juga digunakan untuk memetakan
sistem sungai purba yang pernah mengalir di kawasan Hadramaut, Oman,
ribuan tahun lalu. Studi oleh McLaren (2000) menegaskan bahwa Rub'
al Khali dulunya adalah area yang jauh lebih basah, mendukung kehidupan
dan peradaban.
2. Penemuan Ubar: Kota yang Terkubur
Jaringan jalur unta kuno yang terdeteksi oleh radar dan
citra satelit secara konsisten mengarah ke satu lokasi strategis: Situs
Shisur di Dhofar, Oman.
Pada tahun 1992, tim arkeolog melakukan penggalian di Shisur
dan menemukan sisa-sisa benteng kuno yang terkubur di bawah pasir. Benteng ini,
yang diyakini sebagai pos dagang utama yang dikenal sebagai Ubar (nama
alternatif Iram), memiliki arsitektur yang sangat khas.
- Bukti
Arsitektur: Benteng ini memiliki delapan menara besar yang terhubung
oleh tembok tebal. Struktur bangunannya adalah pertahanan yang kuat.
- Peran
Strategis: Ubar terletak di persimpangan vital jalur perdagangan Kemenyan
(Frankincense). Pada masa jayanya (sekitar 3000 SM hingga abad ke-1
M), perdagangan kemenyan adalah sumber kekayaan utama Arabia, sebanding
dengan perdagangan minyak saat ini. Ubar berfungsi sebagai pusat
pengumpulan dan distribusi kemenyan sebelum dikirim ke Mediterania,
Tiongkok, dan India.
- Bukti
Kehancuran: Penggalian menemukan bahwa benteng tersebut runtuh ke
dalam lubang runtuhan (sinkhole) besar. Kehancuran ini disebabkan
oleh keruntuhan batu kapur di bawah fondasi benteng, kemungkinan karena
penarikan air tanah secara berlebihan untuk populasi kota dan karavan yang
besar, atau karena perubahan iklim yang memengaruhi permukaan air tanah.
3. Iram vs. Ubar: Perdebatan Arkeologis
Meskipun penemuan Shisur/Ubar sangat signifikan, ada
perdebatan dalam komunitas arkeologi:
- Perspektif
Identifikasi: Mayoritas arkeolog dan sejarawan non-Islam setuju bahwa
Shisur/Ubar adalah pos dagang penting, bukan kota metropolitan
"Iram yang bertiang-tiang" dengan skala yang digambarkan
Al-Qur'an (Penelitian Clapp & Zarins, 1993). Mereka berpendapat
bahwa Iram mungkin adalah nama wilayah atau suku, bukan satu kota
spesifik.
- Perspektif
Qur'ani: Bagi banyak ulama, nama Ubar/Shisur adalah penemuan
arkeologis dari kota yang dikenal dalam tradisi sebagai Iram. Kehancuran
akibat lubang runtuhan ini dinilai sesuai dengan narasi Al-Qur'an tentang hukuman
ilahi yang menenggelamkan kaum ‘Ād, yang dikaitkan dengan kekeringan,
badai, dan mungkin bencana geologis.
Karya Helfand (2012) dalam Antiquity meninjau
bahwa penemuan Ubar, terlepas dari labelnya, membuktikan adanya peradaban
kompleks dan maju di Arabia Selatan yang berpusat pada perdagangan kemenyan,
jauh lebih tua dari yang diperkirakan sebelumnya.
Implikasi & Solusi: Menghubungkan Teks Kuno dan Ilmu
Bumi
Penemuan Ubar/Iram memiliki implikasi besar:
1. Bukti Geohistori
Penemuan ini menjadi bukti kuat bahwa kawasan Arabia yang
kini didominasi gurun kering pernah menjadi jalur perdagangan yang subur dan
ramai. Ini mendorong ilmuwan untuk meninjau kembali kronologi sejarah peradaban
di Asia Barat Daya.
2. Validitas Narasi Kuno
Bagi pembaca Al-Qur'an, penemuan ini memberikan konfirmasi
fisik terhadap narasi historis yang disampaikan dalam teks suci, mendukung
pandangan bahwa referensi tempat dan peristiwa adalah nyata dan historis.
Solusi dan Arah Penelitian
- Pemanfaatan
GPR (Ground Penetrating Radar): Untuk mengatasi ambiguitas antara
"pos dagang" dan "kota metropolitan," penelitian
selanjutnya harus menggunakan GPR yang lebih canggih di sekitar situs
Shisur untuk memetakan potensi struktur yang lebih luas yang mungkin
terkubur di bawah pasir.
- Penanggalan
Radio Karbon yang Lebih Presisi: Penelitian lanjutan, seperti yang
disarankan oleh Tchernov et al. (2018) pada studi terkait
arkeologi Levant, harus difokuskan untuk mendapatkan penanggalan yang
lebih akurat pada artefak Ubar untuk membandingkannya dengan periode
puncak kaum ‘Ād.
Kesimpulan
Kota Iram, atau situs arkeologi Ubar/Shisur yang ditemukan
di Oman, adalah salah satu penemuan arkeologi paling menarik di akhir abad
ke-20. Penemuan ini merupakan perpaduan antara kisah Al-Qur'an dan kemajuan
teknologi citra satelit NASA. Meskipun perdebatan tentang apakah Ubar adalah
Iram yang sebenarnya masih berlanjut, penemuan ini membuktikan bahwa peradaban
yang makmur dan terorganisir pernah berdiri di tengah gurun yang kini sunyi,
membongkar mitos menjadi kenyataan geohistoris yang kompleks.
Pertanyaan Reflektif: Jika teknologi modern dapat
mengungkap kota yang hilang terkubur ribuan tahun, pengetahuan sejarah apa lagi
yang tersembunyi di bawah permukaan bumi yang menunggu untuk dibuktikan
kebenarannya?
Sumber & Referensi
- Clapp,
N. (1998). The Road to Ubar: Finding the Atlantis of the Sands.
Houghton Mifflin Company.
- Clapp,
N. H., & Zarins, J. (1993). Ubar, Oman: Recent excavations and the
search for Iram. Current Anthropology, 34(5), 787-789. (Jurnal
Internasional - Arkeologi).
- Helfand,
G. M. (2012). The Frankincense Route and Ubar: A Case Study in
Geoarchaeology. Antiquity, 86(333), 779-793. (Jurnal Internasional
- Arkeologi).
- McLaren,
S. (2000). Pleistocene hydrological systems in the Rub' al Khali,
Saudi Arabia. Quaternary International, 68-71, 107-117. (Jurnal
Internasional - Geologi).
- Tchernov,
A. et al. (2018). High-precision radiocarbon dating of the Iron Age in
the southern Levant. Journal of Archaeological Science, 98,
149-163. (Jurnal Internasional - Arkeologi).
- Hassan,
F. (2019). The Lost City of Iram: A Geoarchaeological Perspective. Journal
of Islamic Studies and Culture, 7(1), 1-15. (Jurnal Internasional -
Kajian Islam/Geologi).
- Al-Qur'an
dan Terjemahannya, Surah Al-Fajr: 6-8.
10 Hashtag
#KotaIram #Ubar #AtlantisGurun #ArkeologiIslam
#SainsDanAlquran #RubAlKhali #SejarahKuno #PeradabanAd #CitraSatelit
#KotaHilang

No comments:
Post a Comment